About Me

My Photo
Jakarta, DKI Jakarta, Indonesia
A guy who found out that, with a little bit of research and practical knowledge, a life-changing trip is not that expensive, while that inspirational journey we have always dreamed about might came true earlier than we thought. Now after trotting some parts of the world and planning to explore the rest of it, I have this blog to share. Here you will find every practicality that has made my past journeys possible. I’m an interior designer, yet I just love to venture into the great outdoor. And embarking on adventure to a place unknown. And trying some strange food I have never seen before. And brings home new fascinating true stories to tell. In short, I simply just love to travel. I believe everybody deserves to travel and the world will be a much better place if only more people could afford to travel. Travel will not only opens our eyes to new mesmerizing sights, it will opens our mind as well. I will keep on traveling and I hope so do you.

Wednesday, October 28, 2009

On looking forward to travel and forward-looking traveling.


Travel changes life and life is changing very fast. Everything we thought we knew from our world seems to be suddenly became inaccurate. Flying is not that expensive anymore, as efficient budget airlines sprung up everywhere in the world even in Africa. On the accommodation side, online hotel or hostel booking saves our time and money on the road, as we can browse, book and be prepared upon what might await out there in our mysterious destination. The world is moving on a new logic. Idea, culture, money and people move rapidly from everywhere to everywhere.

Speed is the key, but awareness is the essence. The nature, it is also changing fast. For the first time in history, we don’t recognize our climate anymore. I’m sure you have heard this from someone else, most possibly Al Gore, in greater details. He said it’s not too late to fix things, and he might be right. A report from the Energy Tribune stated that the Antarctic ice has been increasing and the extent on 2007 was the greatest in the satellite-monitoring era. http://www.energytribune.com/articles.cfm?aid=970&idli=3

Things keep on changing, be it for the better of for worse. And the changes are far too great only to be reported. Is there any place on earth where the internet hasn’t penetrated? Is there any place where industrialization and the obsession of more money haven’t really arrive? The last great place on earth, is there any such thing? And how does rapid economic growth changes life in Beijing’s hutong? Will the ‘slumdogs’ of Mumbai finally become millionaires as the result of India’s IT boom? And how will Tibet change, as it is not so remote anymore? Will you witness all of these changes? And will all of these changes change you as a person?

Looks like our reason to travel also have to change. It role shouldn’t be limited just as a mere vacation. Travel can also functions as a mean of education. A window of experience that will teach us a lot about our new world. To understand the world is to understand our self. I hold firm to this believe for the last three or four years of my life. Since then I have traveled intensively using my freshly earned money as an interior designer. I found out it’s not that difficult nor particularly expensive nor extremely hazardous to go on a once in a lifetime journey that usually we can only read in magazines or books. And thanks to those trips, just like the world, I too have changed a lot. I saw what makes people smile in one part of the world and I also saw what makes people cry in the other parts. I saw how our planet suffers. And how people can be so ignorant or so attentive toward it.

Your dream life-changing destination is not that far. This blog purpose is to show you how. And if you have an interesting itinerary on your own with budgeting to share to others, please do reach me here agungwbakti@gmail.com.

So, meet you there?

Oukaimeden; Snow next to the Sahara


Liburan ski di Afrika. Kedengeran kayak frase yang salah. Sesalah makan di McD waktu lagi traveling. Tapi setelah gue datang ke Oukaimeden, ide itu nggak salah sama sekali. Ski di Afrikanya, bukan makan di McD. Tempatnya gampang dijangkau, cuma beberapa jam dari Marrakesh.

Saking bikin penasarannya tempat ini, di jalan ke sana gue sibuk ngebayangin bentuknya. Tapi gue nggak mau berharap. Karena gue denger tempat ini udah turisan banget. Jadi destinasi liburan keluarga-keluarga Maroko gitu. Wah, one of those places nih. Yang kayak puncak gitu. Bedanya di sini yang jadi pribumi orang Arab, di Puncak orang Arab yang jadi pendatang.


Anyway, pemandangannya sarap banget. Beberapa jam setelah kita keluar Marrakesh, pemandangannya jadi Desa Galia gitu. Mediterrania banget, pohon-pohon cemara, sungai jernih bergemericik, pepohonan olive dan desa-desa batu. Gue langsung dengerin Beirut di iPod gue. Waktu inget kalo Beirut itu musiknya ke Balkan-balkanan dan bukan Mediterraniaan gue langsung berasa cheesy banget.

Abis pemandangan Desa Galia, keindahan berganti menjadi suasana pegunungan yang tinggi banget. Saking tingginya sampe saljuan dan di sekiling lo yang keliatan cuma awan dan puncak-puncak gunung. Dan ini cuma beberapa jam dari Sahara, yang udah jelas adalah gurun paling terkenal di seluruh dunia.

Di tengah jalan kita ngeliat banyak rumah batu kotak-kotak terendam salju. Kata sopir gue, itu rumah suku Berber. Gue nggak yakin ini bener. Soalnya gue nggak ngerti Bahasa Perancis. Itu analisa gue aja.




Oukaimeden ternyata ski resort yang cukup tak terduga karakternya. Gue yang tadinya berharap ketemu orang-orang Arab Maroko lagi jatuh-jatuh belajar ski, ternyata malah ketemu jetset-jetset Eropa yang dateng bawa anjing rasnya. Nggak jauh dari lift ski ada restoran Perancis Maroko yang settingannya the best banget. Bangunannya wood cabin yang cozy abis gitu, tapi di halamannya juga ada meja-meja sama kursi-kursi. Jadalah gue minum wine sambil menikmati segarnya udara pegunungan salju di benua Afrika.

Untuk menuju ke tempat sesensasional ini lo butuh tiket Qatar Airways Jakarta-Casablanca. Kenapa Qatar Airways, karena mereka hampir selalu mengquote harga paling murah. Katanya karena subsidi dari kerajaan Qatar tuh yang gede banget gitu, mengingat sebagai bangsa Arab, mereka nggak mau kalah.

Lo booking tiketnya di sini. Sekali lagi, jangan beli lewat travel agent. Lebih murah beli langsung kalo pengalaman gue. Kalo kartu kredit lo nggak cukup limitnya, bayar cash juga bisa ke kantor mereka di Grand Indo. Harganya kurang lebih Rp 10.000.000.- an.

 Dari Casablanca lo langsung ke stasiun keretanya aja, Casa Voyageur. Bisa naik kereta dari airport Casablanca. Dari sana naik kereta yang ke Marrakesh. Keretanya ada kayak hampir tiap jam. Jadi aman. Kayak Parahyangan gitu. Tiketnya 80 MAD atau kurang lebih Rp 100.000.- one way. Dari Marrakesh, lo nyewa grande taxi. Taxi gede. Pakenya Mercy Tiger. Biayanya sekitar 1000 MAD sejutaan lebih udah sama bensinnya.

 Total-total, tiket Jakarta-Casablanca PP Rp 10.000.000.-

Tiket kereta Casablanca-Marrakesh PP Rp 200.000.-

Sewa grande taxi letsay, Rp 1.200.000.-

Total semua Rp 11.400.000.-

Of course kalo lo udah nyampe Maroko gue saranin jangan ke Marrakesh sama Oukaimeden doang, tapi sempetin buat liat the whole country. Keren banget.Ada beberapa postingan yang lain tentang Maroko di blog ini. Satu labelnya Sahara, satu lagi Chefchaouen.

Menurut gue lo nggak usah nginep di Oukaimeden. Pertama karena hotelnya mahal, sekitar 700 ribuan gitu semalem, Kedua,  karena lo juga bisa lumayan bingung mau ngapain lagi. Kecuali kalo lo seorang pengamat salju. Atau lo suka banget ski. Di sini sewa alat-alatnya juga ada, tapi karena gue nggak minat ya udah, abis makan siang, ngewine-ngewine, ngopi-ngopi, foto-foto, gue balik lagi ke Marrakesh.

Oukaimeden yang awalnya jadi salah satu tempat-tempat yang gue pikir harus gue hindarin, ended up jadi tempat yang gue rekomendasikan saking spektakulernya.

Sunday, October 25, 2009

Jakarta-Korea PP; Slow Boat From China



Korea Selatan. Gue nggak pernah tertarik pergi ke tempat ini. Apalagi hampir semua orang Korea yang gue temuin di Jakarta selalu tampil dalam stereotype budaya yang kasar, suka mabuk, dan main perempuan. Filmnya pun gue nggak gitu suka. Baik yang kelas festival macam Tae Guk Gi maupun drama sinetron mewek-mewek itu. Industri elektronik dan otomotif mereka pun selalu dilihat sebagai produk kelas dua dibanding Jepang.


Tapi Korea Selatan punya satu daya tarik yang bisa jadi nggak dipunyai sama negara-negara Asia lain yang juga sedang giat-giatnya membangun. Yaitu kesadaran masyarakatnya yang sangat tinggi untuk memelihara lingkungan hidup. Selain sebagai salah satu metropolis utama Asia yang memimpin dalam bidang desain dan industri, Seoul tampil terdepan dalam urusan green policy. Di sini semua orang dari mulai pemerintah hingga rakyat jelata sepakat bahwa Bumi sudah terlalu tua untuk tidak dilindungi. Mungkin inilah satu-satunya tempat di Asia, selain Singapur of course, di mana orang abis ngerokok puntungnya dimasukin ke kantong. 



Thanks to Rika Dwi Hapsari yang nanya cara hemat ke Korea di FB, gue jadi kepikiran buat sharing di sini. Rutenya begini:
Jakarta - KL dengan AirAsia, PP Rp 650.000.-
Sambung KL-Tianjin juga dengan AirAsia, PP sekitar Rp 2.500.000.-
Dari Tianjin sambung ferry ke Incheon PP untuk kelas ekonomi yang paling ekonomi 218.500 won atau sekitar Rp 1.750.000.-. Perjalanannya akan makan waktu sekitar 24 jam kurang lebih. Berangkat tiap hari Minggu,Selasa,Kamis, dan Jumat. Detail dan harga komplit bisa liat di sini. Dari Incheon tinggal naik kereta ke Seoul, sekitar sejam. Keretanya banyak.

Total-total, buat ke Korea Selatan dengan cara ini kita cuman butuh Rp 4.900.000.- PP. Seperti biasa, keuntungan lain dari pergi dengan metode nyambung-nyambung gini adalah side trip yang bisa kita dapatkan.


So, winter sonata anyone?

Saturday, October 24, 2009

Makan Enak Murah di Tempat Mahal; 456 Eating House Singapur



Siapa yang sangka pergi ke Singapura, dengan budget airlines tentunya, naik flight malem bisa bikin waktu makan agak-agak kacau. Begitu nyampe, perut laper banget. Sialnya Singapura terkenal sebagai tempat yang biaya hidupnya mahal. Padahal cuma mau spend a night sebelum lanjut ke tujuan beriktnya yang lebih menarik.

Untungnya di daerah Geylang, tempat ngumpulnya akomodasi murah, ada 456 Eating House yang bisa jadi alternatif makan malam yang super enak tapi super irit.

Bisa ditempuh dengan jalan kaki dari Aljunied MRT station, 456 Eating House menyajikan menu-menu khas Singapur seperti fried oyster omelette, laksa, dan bakmi-bakmian plus seafood. Yang spesial harganya. Rata-rata cuma 2 dolar Singapur. Enaknya minta ampun. Begitu otentik, begitu pedas, begitu lezat. Ini adalah salah satu tempat makan paling enak, dan paling murah di Singapur, yang gue pernah coba.

Seperti namanya 456 Eating House ada di jalan besar Geylang nomor 456, pas di depan No Name Karaoke yang begitu glamour seperti bisa diliat di foto bawah ini. 456 Eating House, satu lagi pilihan enak makan di Geylang.




 

Wednesday, September 9, 2009

Dari Jakarta Ke Kenya; Sebuah Panduan Murahan.


Maskapai penerbangan Eropa akan ngasih lo harga yang paling tinggi. Airlines Timur Tengah akan ngasih harga murah. Dan Qatar Airways akan ngasih harga paling murah dari Jakarta ke Kenya, terakhir kali gue cek.

Tapi tetep aja, buat tiket PP, lo butuh 1500 USD.

Kalo lo ngebet banget punya fantasi safari di Serengeti tapi lo terlalu murahan buat keluar 15 juta buat tiket doang, ada cara akal-akalan ke Kenya yang lagi-lagi melibatkan AirAsia. Begini detailnya.

Lo book dulu flight JKT-KL-JKT pake AirAsia. Harganya bisa semurah 650rb PP. Kalo udah, lo book flight KL-Abu Dhabi-KL. Harganya gue terakhir cek 1000 ringgitan atau 3 jutaan. Abis itu lo ke sitenya http://www.airarabia.com/ dan book flight Sharjah - Nairobi - Sharjah. Harganya juga 3 jutaan.


 Sekarang kita bahas rutenya.Dari Jakarta, lo akan berangkat ke KL. Kalo bisa ambil flight paling pagi, biar sorenya jam lima lo bisa langsung sambung flight ke Abu Dhabi. Lo akan nyampe Abu Dhabi malam jam delapanan. Kalo lo mau lo bisa sempetin side trip di Abu Dhabi dan sekitarnya beberapa hari, yang berarti Dubai (cuma 15-20 menit naik mobil). Kalo Burj al-Arab dan ekstravaganza ke-Arab-araban lainnya bukan minat lo, ya lo overnight aja terus lanjut ke Sharjah naik bis yang disediain sama AirArabia. Detail di mana bisnya mangkal plus jadwalnya lo bisa liat di sini. Tiketnya 40 AED sekali jalan atau sekitar seratus ribuan. Naik bis itu lo akan langsung sampe di airport Sharjah. Dari Sharjah lo akan terbang langsung ke Nairobi, Kenya. Semuanya dengan biaya cuma Rp 6.800.000.- an.

Nih itung-itungannya:

Flight AirAsia JKT-KL-JKT Rp 650.000.-
Flight AirAsia KL-Abu Dhabi-KL Rp 3.000.000.-
Transfer bis Abu Dhabi - Sharjah - Abu Dhabi  Rp 200.000.-
Flight AirArabia Sharjah - Nairobi - Sharjah Rp 3.000.000.-
Total pertiketan Rp 6.850.000.-

Ya buletin sama jajan coklat di duty free, lo keluar Rp 7.000.000.- lah. Itu setengahnya lho dibanding kalo lo pake full service airlines yang paling murah. Plus lo dapet side trip ke Dubai.

Di Kenya ada banyak banget pilihan operator safari, tinggal lo pilih aja mana yang paling masuk budget lho. Mulai dari yang nawarin paket ngirit tiga hari dua malem ke Taman Nasional Masai Mara sampai paket safari mewah 45 hari plus Tanzania sama Uganda juga ada.

Hakuna matata.


Monday, August 17, 2009

Jurusan Turkestan; Jakarta-Silk Road PP




This might be your final chance. A destination so exotic it makes traveling there still sounds very romantic even in a Blackberry Messenger age. Xinjiang atau dikenal sebagai Turkestan jaman dulu adalah provinsi RRC yang letaknya di Asia Tengah, berbatasan langsung dengan Pakistan, Kyrgyztan, dan Kazakhstan. Di sini bahasanya bahasa Turkic, orangnya mulai gede-gede dan berkulit putih selayaknya orang Asia tengah, makannya daging kambing dan domba.

Para petualang terkenal dan para pedagang jalur sutra udah mondar-mandir ke sini pake rombongan karavan menembus gurun dan gunung-gunung salju sejak ribuan tahun yang lalu. Tahun ini bisa jadi giliran kita. Kalo mau curang, kita bisa ke sana cukup dengan sekali naik pesawat sambung sekali lagi naik pesawat atau sekali naik kereta. Tapi kita suka cara-cara murahan, seperti misalnya naik pesawat dua kali, dari Jakarta ke KL sambung KL-Hangzhou dengan AirAsia.

Lo akan nyampe di Hangzhou sekitar jam satu siang. Dari airport ada shuttle bus ke Wulin Men di pusat kota. Ongkosnya 15 yuan satu orang. Atau sekitar hampir dua puluh ribuan. Kalo naik taksi 120 yuan, kalo di rupiahin 165 ribuan. Dari East Bus Terminal, ada banyak bus ke Shanghai. Tiketnya 54 Yuan atau 75 ribuan lah perjalanannya cuma dua jam an. Kalo nggak keburu atau lo mau leyeh-leyeh di Hangzhou di pinggir West Lake yang terkenal sebagai tempat para seniman Cina cari inspirasi, ya gak papa. Asal itu udah masuk ke dalam plan lo.

Nah kalo lo udah sampai di Shanghai, lo bisa nyambung perjalanan pake kereta api. Lama perjalanannya 48 jam. Cek jadwal di sini, detail gimana cara belinya baik kalo lo udah di sana atau lo mau beli dari Jakarta ada di sini. Gue saranin lo belinya dari Jakarta, soalnya kereta api di Cina masih jadi alat transportasi utama antar kota dan ingat, Cina berpenduduk paling banyak di dunia.

Urumqi adalah ibukota Xinjiang yang metropolitan. Tapi jangan khawatir. Fantasi silk road kita bisa dimulai di kota kuno Turpan, lokasi terendah kedua di dunia setelah laut mati. Makanya Turpan juga dikenal sebagai tempat paling panas di Cina. Letaknya di tengah gurun dan suhunya kalo musim panas bisa sampe 50 derajat celcius. Buat ke Turpan lo bisa naik bis dari Urumqi. Bisnya ada tiap dua puluh menit dari jam delapan pagi sampe jam delapan malem, tiketnya 25 Yuan atau 35 ribuan.

Dari Turpan, lo bisa nerusin perjalanan ke kota jalur sutra yang lebih legendaris lagi; Kashgar. Ada keberangkatan jam setengah dua belas siang. Lamanya semalem, tiketnya 132 Yuan atau 180 ribuan lah. Di sini vibenya bakalan dagang banget, secara Kashgar terkenal dengan bazaarnya yang udah jadi tempat ketemu berbagai suku bangsa di dunia sejak jaman dulu. Di sinilah lo bisa experience keeksotikan Xinjiang, dengang campuran etnik yang keren banget; Uzbek, Tajik, Kyrgyz, Kazakh, dan Cina gabung jadi satu. Ini bakal jadi salah satu titik puncak pengalaman silk road lo. Dari Kashgar, lanjut lagi ke Hotan dengan bus. Lamanya sepuluh jam, tiketnya 58 Yuan atau 80 ribuan. Sebagai kota, Hotan udah nggak seeksotik waktu masih jaman Silk Road. Alasan lo ke sini adalah the Desert of Death; Gurun Taklamakan. Dari Hotan, lo ambil bis malem ke Urumqi yang berangkat jam sepuluh pagi. Lo akan ngelewatin jalan raya lintas gurun di mana gurunnya di bagi-bagi ke partisi-partisi buat mencegah pasir tumpah ke jalanan. Bukan apa-apa, cuaca buruk dikit aja, jalan udah pasti akan ketutupan. Orang belum nyampe gurunnya aja, lo udah bisa liat di kejauhan udaranya berubah jadi kuning dibatasin gunung salju di cakrawala. Buat ride spektakuler ini, lo akan dicharge 220 Yuan atau 300 ribuan.

Ntar kalo udah sampai di Urumqi, lo naik kereta lagi ke Shanghai. Dari Shanghai, sambung bis ke Hangzhou sambung AirAsia ke KL, sambung AirAsia lagi ke Jakarta. Selesailah petualangan Silk Road lo.

Untuk trip seakbar ini, coba kita itung lo butuh duit berapa buat tiket-tiketannya.

Jakarta – KL PP mulai dari Rp 650.000.-
KL – Hangzhou PP Rp 1.700.000.-
Bis Hangzhou – Shanghai PP Rp 150.000.-
Kereta Shanghai-Urumqi PP Rp 2.000.000.-

Total tiket Jakarta – Xinjiang = Rp 4.500.000.-

Itu murah banget lo kalo dibandingin sama jarak yang bakal lo tempuh. Kalo lo mau tambahin tiket-tiket bis di Xinjiang ya pas lah Rp 5.000.000.- buat semua urusan transportasi. Tambah-tambah uang saku, katakanlah lo butuh Rp 200.000.-/ hari buat makan dan nginep dan lo akan bertualang selama empat belas hari lo akan butuh Rp 2.800.000.-. Total trip akan ngabisin Rp 7.800.000.-

Thursday, July 2, 2009

A Higher Ground; Jakarta - Tibet PP



Selama bertahun-tahun, Tibet menjadi legenda sebagai Kerajaan Himalaya yang kayaknya cuma Tintin bisa ke sana. Biaya mahal, birokraksi yang belibet, ditambah dengan halangan alami seperti ancaman altitude sickness bikin Tibet seolah-olah nggak bisa didatengin oleh orang biasa kayak kita. Tapi berkat kereta Qinghai-Tibet, semuanya berubah. Gue bisa ke sana. Air Asia punya rute ke Macau dari KL, dari sana gw pikir ke daerah lain di Cina udah gampang. Dalam waktu hampir bersamaan, gue baca di DestinAsian ada rute kereta api baru dengan harga terjangkau. Trayeknya spektakuler; Beijing-Lhasa.

Gue pun mulai menyusun strategi. Sebagai orang Indonesia tulen, gue cuma butuh tahu bagaimana caranya bisa ke Macau murah tanpa harus ke Malaysia dulu. Untungnya Tiger Airways punya rute Singapur – Macau. Even better. Gue bisa beli tiket Jakarta – Batam, nyebrang pake feri ke Singapur. Lebih murah di tiket, lebih murah di fiskal. Waktu itu penerbangan budget Jakarta- Singapur belum ada. Jadilah gw ke Tibet dengan itinerary yang unik. JKT – Singapur via Batam, Singapur-Macau langsung sambung feri ke Hongkong, Hongkong-Beijing, Beijing-Lhasa, Lhasa-Guangzhou,Guangzhou-Macau, Macau-KL,KL-Penang,Penang-Medan via fery, Medan-Jakarta. Kolosal, cuma dalam waktu delapan belas hari. Rasanya kayak sprint dengan rute maraton.

Karena pace yang cepet banget, guenya juga keteteran. Sampe-sampe semua duit gue yang udah gue siapin buat trip ini ilang di Tibet. Saking capeknya sampe nggak konsen. Gue taunya pas di kereta dari Lhasa ke Guangzhou, dan udah hampir nyampe Guangzhou. Anjrit. Duit gue ketinggalan. Tapi dengan duit sisapun ternyata gue mampu bertahan. Itu artinya perjalanan ini nggak mahal-mahal amat. Kalo temen gue bisa ngeluarin sepuluh juta buat BB Bold, kenapa gue nggak boleh ngeluarin dua belas juta buat perjalanan once in a life time gue?

Sekarang kalo lo mau ke Tibet dengan taktik overland kayak gitu, ada cara yang lebih ringkes dengan rute sebagai berikut:

Lo berangkat dari Jakarta ke KL dulu pake AirAsia. Emang males sih, tapi kali ini nggak apa-apa kok. Hemat waktu. Lo tinggal book di sini. Harganya sekitar Rp 650.000.- buat PP Jakarta-KL. Berangkatnya ambil yang paling malem, yang nyampenya jam dua belas. Jadi lo bisa langsung nyambung dengan penerbangan ke Tianjin dari Air Asia juga. Berangkatnya jam empat pagi, tiketnya dua jutaan. Lo akan nyampe Tianjin jam tujuhan, langsung sambung shuttle dari airportnya ke stasiun kereta. Bayarnya 10 Yuan, atau empat belas ribuan lah. Nggak jauh, cuman dua puluh menit. Dari stasiun lo naik C-Train, bayarnya 69 yuan atau seratus ribuan. Ada tiap sepuluh menit. Itu langsung ke Beijing. Cuma setengah jam, jadi lo akan nyampe jam sembilan. Waktu yang pas banget buat cari taksi ke hotel, cek in, taro backpack, leyeh-leyeh bentar, ketiduran. Terus nyesel kenapa ketiduran.


Di Beijing, kalo lo belum pernah ke sana, menurut gue minimal banget lo spend waktu tiga hari dua malem. Kalo bisa empat hari even better, soalnya attraction kayak Forbidden City yang gede banget bakal ngambil waktu lo seharian. Dan Great Wall juga agak di luar kota tempatnya. Gw waktu itu nginep di Far East International Youth Hostel, gue ambil dorm bed yang paling murah. Sekarang mungkin semalemnya sekitar 6 USD. Clean bed, clean shared bath room, central location. Tempatnya di dalem Hutong, gang-gang sempit khas Cina. Lo bisa nyewa sepeda dan eksplor gang-gang kecil itu, ketemu nenek-nenek, orang jualan sarapan, dan banyak lagi. Lo bisa liat dan book langsung di sini.


Now it’s the fun part. Dari Beijing ke Tibet. Buat masuk ke Tibet lo butuh permit. Dan buat dapetin permit itu lo harus ikut tur yang disediain sama travel agent yang dapat ijin dari pemerintah Cina. Gw waktu itu belinya dari visittibet.com. Kalo lo gak punya waktu dan mau ngirit, gue saranin lo minta dibikinin itinerary buat empat hari aja, klik di sini. Lo tinggal enquire mereka kasih tau lo mau berangkat berapa orang, dan naik keretanya kelasnya apa. Biayanya sekitar 450 USD sampai 600an USD per orang atau bisa juga lebih tergantung kelas kereta lo. Saran gue lo ambil minimal hardsleeper, lo akan dapet tempat tidur secara perjalanannya akan sepanjang 48 jam. Harga tiketnya sekitar sejutaan. Tapi kalo lo emang mau ngirit banget, ambil hardseat. Itu tiket duduk seharga lima ratus ribuan. Gue pernah dan seru banget karena lo bener-bener bisa get in touch sama suku-suku minoritas kayak Mongol, Hui, dan Tibet secara mereka akan paling banyak ngambil tiket paling murah ini. Dengan paket yang ditawarin sama si travel agent, hidup lo akan lebih mudah kalo lo nggak punya banyak waktu. Hotel akan dibookingin yang kelasnya bintang tiga, mobil akan disewain, guide, plus biaya masuk kuil, istana, dan lain-lain. Lo tinggal bawa badan. Semuanya udah masuk dalam harga dan lo nggak akan campur sama orang lain. Sebaiknya buat tiket baliknya lo ambil yang rute Lhasa-Guangzhou, jadi lo gak balik ke Beijing lagi dan lo bisa liat hal lain. Buat info rute, harga, dan detail lainnya ada di sini.

Sesampainya di Guangzhou, sebaiknya lo nginep barang semalem buat istirahat dan makan dimsum. Soalnya dimsum ternyata emang berasal dari Guangzhou atau jaman dulu disebut Kanton. Tempat paling terkenal buat ngedimsum di Tao Tao Ju, ini alamatnya sama review dari Fodor's. Pilihan dimsumnya ada banyak banget, atau kalo petualangan di Tibet belum memuaskan hasrat adventurous lo ada sup kepala ular juga kok. Harganya murah banget dibandingin sama di Jakarta. Satu orang makan sampe neg, abisnya kira-kira cuma dua puluh ribuan.

Dari Guangzhou, lo bisa nyambung ke KL dengan Air Asia. Tiketnya enam ratus ribuan. Dari KL, lo langsung balik ke Jakarta dengan tiket PP yang udha lo beli duluan tadi. Finish.


Ok, sekarang gimana caranya ngebujetin buat trip ini. Menurut gue lo harus itung dulu waktunya. Kalo lo ngikutin itinerari tadi, lo akan butuh waktu sekitar dua minggu, atau empat belas hari. Satu hari perjalanan ke Beijing, tiga hari di Beijing, tiga hari di kereta Beijing-Lhasa, empat hari di Tibet, tiga hari di kereta Lhasa-Guangzhou, semalem di Guangzhou, dan let say semalem di KL.

Harga-harga di Cina nggak gitu mahal, agak lebih murah dibandingin di Jakarta. Safe bet, pengeluaran lo sehari let say dua ratus ribu udah makan, transport dalam kota, penginepan dan lain-lain. Berarti lo butuh Rp 2.800.000.- buat uang saku.

Buat pertiketan tinggal jumlahin aja semua perhitungan yang udah ada di atas tadi.
Tiket JKT-KL PP Rp 650.000.-
Tiket KL-Tianjin Rp 2.000.000.-
Shuttle dari Tianjin airport ke stasiun kereta Rp 14.000.-
Kereta dari Tianjin ke Beijing Rp 100.000.-
Tiket kereta ke Tibet plus tur dan nginep Rp 6.000.000.-
Tiket Guangzhou-KL Rp 600.000.-
Total tiket sekitar Rp 9.500.000.- an.

Tinggal tambahin aja sama uang saku, Rp 9.500.000.- + Rp 2.800.000.- = Rp 12.300.000.-

Lebih murah dari harga MacBook buat browsing trip Tibet sekalian tampil di coffeeshop.

Thursday, June 4, 2009

Incredibly Inexpensive Ways To India


Perjalanan ke India adalah salah satu trip yang paling sering dibayangin orang-orang tapi juga paling jarang terwujud. Faktor kegagalannya mungkin ada pada susahnya nemuin temen buat pergi ke tempat yang selama bertahun-tahun tersohor dengan kemiskinan, kejorokan, dan goyang Bollywood. Walaupun gue yakin temen lo yang tahu bahwa ekonomi India berkembang pesat, tertarik sama eastern thing dan new age philosophy bertambah tiap waktu, tapi tetep aja. Soalnya pergi ke India dengan cara konvensional cukup mahal. Tiket PP dengan airlines ‘normal’harganya berkisar antara 8 jutaan sampai lebih dari 10 juta. Artinya biayanya sama dengan pergi ke Eropa atau Timur Tengah dengan jarak yang cuma ke sebelahnya Asia Tenggara.

Tapi dengan penemuan budget airlines, semua itu berubah. Kalo lo pengen ke India, udah gak usah ke travel agent di mal-mal yang tahunya cuma naik SQ atau Malaysia Airlines. Di bawah ini ada beberapa cara yang bisa lo pertimbangkan.

Trichy’s Treat
Kota di negara bagian Tamil Nadu yang namanya Tiruchirappalli, dengan nick name Trichy, adalah jalan masuk ke India paling murah saat ini. Klik di sini untuk booking flightnya. Rutenya straight forward banget: pake AirAsia ambil rute Jakarta-KL, KL-Trichy. You can do it on the same day if you want. Ambil flight JKT-KL yang pagi, dan ambil flight KL-Trichy yang sore. Saat makan malem, lo udah bisa makan makanan India Selatan yang dijamin otentik. Perhitungan gue menunjukkan dengan skenario ini lo cukup punya uang sekitar Rp 1.750.000.-. Untuk perjalanan pulang pergi! Itu terdiri dari tiket JKT-KL PP seharga Rp 650.000.- an dan tiket KL-Trichy PP Rp 1.100.000.-an. Bandingin dengan tiket dari airlines full service yang 10 jutaan. Ok, mungkin lo nyampenya di Trichy dan bukan Mumbai atau Delhi, tapi Trichy juga bukannya nggak punya atraksi yang menarik. Coba aja cek di sini.


Dari Trichy, kalo lo mau ngelanjutin perjalanan ke bagian India lain yang lebih terkenal, lo bisa naik bis tujuh jam ke Chennai. Dari Chennai, lo bisa ke bagian India yang mana aja. Kalo mau naik pesawat pun, flight Chennai-Delhi cuma 500 ribuan pake SpiceJet. Cek harga dan book di sini.

Atau kalo lo tertarik dengan perjalanan kereta India yang legendaris, dari Trichy lo bisa ke banyak tujuan bahkan ke Delhi sekalipun. Liat jadwalnya di sini dan liat detail cara beli tiket segala macemnya di sini. Udahlah ngirit, banyak yang diliat lagi.



The Tiger Trails

Kalo ide naik pesawat ke kota kecil tak di kenal di India Selatan disambung kereta atau bis ke Chennai buat ngelanjutin perjalanan ke Delhi atau Mumbai agak berasa belibet dan lo mau bayar lebih, Tiger Airways punya alternatif lain.

Book flight Jakarta-Singapur di sini, terus langsung book flight Singapur-Chennai, atau Singapur-Bangalore di site yang sama. Dari Chennai dan Bangalore ke bagian India yang lain gampang banget. Naik pesawat pake SpiceJet cuma lima ratus ribuan ke Delhi.

Jumlah duit yang sama, sekitar 500 ribuan, juga lo butuhin buat flight JKT-Sing-JKT plus dua jutaan lagi buat flight Sing-Chennai/Bangalore-Sing. Rp 2.500.000.- PP buat trip India impian lo. What a bargain.



Go West
Kalo image India yang lo cari adalah teh darjeeling, pegunungan Himalaya, dan Ibu Teresa, rute lewat West Bengal yang ini adalah yang paling cocok buat lo. Plus kalo lo tertarik buat cross border ke Nepal, rute ini bisa membantu banget.

Dari Jakarta ambil flight Air Asia tujuan Bangkok, book di sini. Jalan-jalan satu dua hari ke Patpong atau Chatuchak, sambung dengan flight Kingfisher Airlines Bangkok-Kolkata book di sini.

Buat itungan duitnya, lo butuh 1,7 juta buat flight JKT-Bangkok-JKT plus 2 juta buat flight Bangkok-Kolkata-Bangkok. Jadi 3,7 juta buat masuk India lewat West Bengal.

Daya tarik utama dari West Bengal adalah Darjeeling, daerah penghasil teh di kaki himalaya dengan campuran etnik Bengal, Nepal, dan Tibet. Darjeeling bisa didatengin lewat Kolkata dengan kereta api atau bus. Dari Darjeeling, lo bisa nyebrang ke Bhutan, Nepal, atau Bangladesh sekalipun. Detail tentang Darjeeling dan cross border nanti gue posting lagi.

Friday, May 29, 2009

The Road Less Traveled; Chefchaouen


Maroko nggak semuanya tentang gurun dan snake charmer. Di bagian utara, ada satu desa yang seluruh bangunannya terpengaruh arsitektur Spanyol Selatan berwarna biru dan putih. Namanya Chefchauoen, duduk di kaki gunung Rif, dikelilingi ladang ganja. Di sana penduduk lokal Afrika Utara bercampur dengan para traveler dari Eropa dan bagian dunia yang lain. Sebagian berambut gimbal dan mencuci pakaianya di sungai, sebagian senang duduk berlama-lama minum cafe au lait di warung kopi, sebagian kerjaannya cuma nongkrong di rooftop restaurant sambil nyimeng. What a scene.

Bahasa mereka pun berbeda dari bagian Maroko yang lain. Mereka nyapa dengan hola dan bukan bonjour, berterima kasih dengan gracias dan bukan lagi merci. Daya tarik utama Chefchaouen adalah suasana desanya. Semua bangunan berwarna putih biru dengan gang-gang sempit di mana anak-anak lari-lari dan ibu-ibu berjilbab beli sabun di toko kelontong. Sementara di kejauhan bebatuan Gunung Rif menjulang diselimuti kabut.


Lo juga bisa jalan-jalan ke perbukitan di sekeliling Chefchaouen. Ada sungai jernih bergemericik tempat penduduk dan para traveler nyuci baju, dan ada jalan setapak yang berujung ke reruntuhan semacam gereja tua di puncak bukit. Dari puncak bukit, Chefchaouen keliatan kayak hamparan bangunan biru muda yang unik dan asri.

Nyimeng adalah tradisi kuno masyarakat Chefchaouen. Semua orang nyimeng sambil ngopi-ngopi. Gunung Rif memang terkenal sebagai salah satu penghasil hashish terbesar di dunia. Ekspor utamanya adalah ke Eropa, termasuk Belanda tentunya. Kegiatan menghisap ganja bisa ditemui di setiap sudut. Di restoran anak-anak muda sibuk ngelinting sementara di warung kopi orang-orang tua ngisap hashish sambil ngeliatin bule-bule yang lalu lalang.

Buat ke tempat seeksotik ini, lo book flight di website Qatar Airways atau lo dateng langsung ke kantor mereka di Grand Indonesia deket Gramedia. PP, harganya Rp 9.640.000.-. Itu best price buat Jakarta-Casablanca-Jakarta.

Dari Casablanca ke Chefchaouen lo naik bis CTM, itu kayak patasnya gitu. Mereka punya terminal sendiri di Rue Leon L'Africain No.23. Telponnya 022 541010. Bayarnya sekitar 80 MAD atau 100 ribu, durasi perjalanannya 6 jam.

Buat penginepan dan makan di Chefchaouen, lo butuh sekitar 200 ribu sehari. Seratus ribu buat nginep, seratus ribu buat makan. Lo nggak butuh duit transport karena kemana-mana bisa jalan kaki.

Jadi, buat ke Chefchaouen, lo butuh yah Rp 10.000.000.- lah total-total buat tiket.

Itu akan jadi 10 juta paling worth it yang pernah lo keluarkan.

Sunday, May 24, 2009

Trayek Jakarta-Sahara


Gue udah pengen ke Sahara mungkin sejak gue kecil. Blame it on Sting. Waktu album Soul Cages keluar dan kakak gue beli, gue langsung suka banget sama Mad About You. Apalagi abis liat videonya, petualang patah hati berseragam coklat-coklat yang mengembarai gurun terik. Di satu adegan, seorang cewek Arab menyembunyikan kecantikannya di balik jendela berukir Arabesque. Waktu kecil gue ngeliatnya sebagai sesuatu hal yang familiar. Pas udah gede, gue ngeliatnya sebagai daya tarik yang asing.

According to The Secret's principle, kalo lo kepengen banget lo pasti bisa. Dan gue bisa. Begini rutenya. 

AirArabia baru buka rute dari pusat mereka di Sharjah, Uni Emirat Arab, ke Casablanca, Maroko. Gue pun langsung kepikiran, mungkinkah ini rute paling murah ke ujung barat utara benua Afrika yang cuma setengah jam terpisah selat dari Eropa? Setelah gue itung ternyata nggak juga. Mereka ngasih gue harga 6 jutaan. Itu baru dari Sharjah ke Casablanca. Gue masih harus naik flight dari Jakarta ke KL sambung KL-Abu Dhabi. Udahlah muter-muter, keluarnya udah pasti sembilan jutaan hampir sepuluh jutaan PP.

Untung gue nemu Qatar Airways. Flight dari Jakarta ke Casablanca transit di Singapore, cuman dibandrol Rp 9.600.000.- PP. Simple dan murah, apalagi kalo dibandingin dengan saingan terdekatnya, Emirates. Mereka ngasih harga Rp 11.640.000.- PP.

So, boys and girls, for long haul flights, Qatar Airways. Cek harga dan book di sini. Kalo lo nggak punya credit card yang limitnya cukup gede, lo bawa cash aja ke kantor mereka di Grand Indonesia deket Gramedia. Harganya sama. Dan jangan beli dari travel agent tanpa ngecek harga dasar di website mereka. Ada satu travel agent nyoba ngecharge gue Rp 17.000.000.- buat tiket yang sama.

Anyway, lo akan nyampe Casablanca setelah penerbangan 24 jam dari Jakarta. Termasuk transit. Dari airport Casablanca ada kereta langsung ke stasiun kereta Casablanca. Dari sana, saran gue buat ngatasin jet lag dan kecapekan, lo nginep di hotel Ibis sebelah stasiun. Ratenya semalem sekitar 70USD. Agak mahal tapi karena rate hotel di Maroko emang lebih mahal dari di Asia. 50-100 USD semalem di Maroko dapetnya hotel kelas menengah. Book di sini. Besokannya, lo berangkat ke Marrakech naik kereta, sampainya siang. Ini model kereta Jakarta-Bandung gitu yang selalu ada sepanjang hari. Tiketnya 80 MAD atau sekitar Rp 100.000.- sekali jalan. Dateng langsung ke stasiun dan beli tiketnya. Kartu kredit diterima.




Nyampe Marrakech, santai-santai dululah. Makan malam di Jmaa El'Fna, kayak semacam alun-alun yang isinya bazaar makanan gitu, liat-liat souq (tapi jangan belanja karena harganya bakal lebih murah di kota-kota yang lebih kecil), ngeteh mint, dan tidur siang. Sambil santai-santai lo bisa cek harga safari ke Sahara di Sahara Expedition. Tempatnya di Rue de Foucauld, bisa jalan dari Jmaa El'Fna. Atau lo bisa browse dan book di site mereka di sini. Nama di sitenya emang Gomoco, tapi itu Sahara Expedition juga.

Gue saranin lo ambil yang paket 3 hari dua malem ke Merzouga seharga 97 Eur atau Rp 1.500.000.- an. Lebih dari itu lo akan neg liat gurun. Kecuali kalo lo emang punya minat spesial terhadap gurun. Anyway, this is how it works. Setelah booking, lo akan ngumpul sama orang-orang lain yang mau ke Sahara pada tanggal yang udah ditetapkan. Jam tujuh pagi biasanya. Kecuali lo mau private tour, ya lo berangkat sendiri. Gue saranin, keep your option on shared tour. Lo dapet temen-temen baru, lebih meriah dan lebih murah.

Dari sana, nanti mobil, supir, penginepan (lo akan break the journey dengan nginep di Valley of the Roses. Ini tempat super keren banget. Kayak Grand Canyon tapi penuh kasbah terus banyak bunga pink kayak sakura yang kontras sama warna coklat gurun), makan malam, sampai tenda lo di Sahara udah disiapin. Begitu pula dengan transpor lo balik lagi ke Marrakech. Yang cuma lo pikirin adalah bagusnya pemandangan sepanjang jalan dan pengalaman main pasir di Sahara, tidur di bawah terangnya rembulan gurun, dan mau ngisep hashish nggak sebelum makan roti maroko yang dimasak di gurun. Waktu gue di sana, di sebelah tenda gue ada tenda-tenda orang Berber. Keren.




Kalo ngomongin sights and acitivities, detailnya lo bisa liat di Lonely Planet. Buat kita sekarang yang penting adalah ngomongin biayanya. Sahara soalnya jauh banget dari Jakarta.

Yang lo butuh adalah tiket PP Jakarta - Casablanca Rp 9.640.000.-
Lo juga butuh tiket kereta Casablanca Marakech PP Rp 200.000.-
Terakhir lo butuh bayar Sahara Expeditions Rp 1.500.000.-
Total transport plus Sahara Expeditions jadi Rp 11.340.000.-, masih lebih murah tiga ratus ribu dari tiket PP Jakarta-Casablanca yang ditawarin Emirates.

Ditambah uang saku buat makan dan nginep dan nggak tau apaan lagi, bujetin sekitar Rp 500.000.-/orang/hari dan lo akan traveling selama katakanlah seminggu, lo butuh Rp 3.500.00.-

So. To have some tea in the Sahara, you might want to prepare Rp 14.840.000.- more or less.